Suatu hari di sebuah hutan belantara sekitar Kalimantan, hidup seorang manusia yang bernama Tarsan (Tarzan kalau di luar negeri). Tarsan dirawat oleh seorang (tapi bukan orang), sebuah (tapi bukan buah), seekor (tidak tahu punya ekor apa tidak) gorilla. Sebenarnya Tarsan adalah anak seorang koruptor terkenal di seluruh negeri. Suatu hari Tarsan bertanya kepada ibu angkatnya,yaitu gorilla,”Huuuhaaaauwaauaawaahuuaaa.”Berikut translatenya:

 “Ibu kenapa hanya saya yang berbeda dengan yang lainnya?”

Ibunya menjawab,”Sebenarnya kau berbeda dengan kami, kau adalah manusia sedangkan kami gorilla.”

”Lalu,siapakah orangtuaku yang sebenarnya,”Tarsan kembali bertanya.

Dengan perasaan sedih gorilla memberikan surat yang ia ketemukan bersama Tarsan. Karena, rahmat dari Tuhan, tanpa sekolah Tarsan sudah bisa membaca (namanya juga cerita). Surat itu berisi foto keluarga Tarsan sewaktu ia kecil dan juga tulisan Jakarta. Tanpa membuang waktu Tarsan langsung membereskan bajunya dan bergegas terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Walaupun Tarsan bisa membaca tetapi ia tidak bisa berbicara bahasa manusia dengan baik. Jadinya ia bertanya,”Haaahhaaaaa aaaaaahuuuuu haaaahuuuuuu ooooooaaaangggtuuuuaaauuu”. Setiap orang yang Tarsan temui langsung menyuruhnya ke kantor polisi. Tarsan akhirnya bertanya ke kantor polisi dan menunjukkan foto keluarganya. Polisi itu langsung membawa Tarsan ke sebuah rumah yang mewah yang ternyata adalah rumah orangtuanya. Begitu kedua orangtuanya melihat Tarsan,mereka langsung mengenali bahwa Tarsan adalah anak mereka.

Lalu, orangtua mereka menceritakan semuanya kepada Tarsan. Jadi, sewaktu mereka sekeluarga pergi ke Kalimantan untuk berlibur. Mereka tidak sengaja meninggalkan Tarsan, karena waktu itu ada panggilan dinas mendadak. Mereka sama sekali lupa pada anaknya yang masih kecil dan biasa diurus babysitter. Setelah mereka tersadar kalau anaknya tertinggal, mereka menyuruh tim penyelamat untuk mencarinya, namun tidak berhasil ditemukan. Seminggu setelah tinggal bersama orangtuanya, Tarsan sudah bisa berbicara dengan baik.Lalu, Tarsan memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara segar dengan banyak polusi. Setiap ia berjalan orang-orang berbisik-bisik,”Itukan anak orang yang suka makan uang rakyat.” Tarsan bingung dengan ucapan orang-orang, ia pun langsung kembali ke rumah. Tarsan melihat tingkah laku ayahnya, saat di meja makan ayah makan nasi, saat di restoran juga makan nasi, tapi kenapa orang-orang bilang ayah makan uang.

Merasa penasaran Tarsan mulai mencari-cari melalui internet (Tarsannya gaul), ia bertanya mulai dari facebook, twitter, msn dan lain-lain. Sampai ia mengetahui kalau makan uang rakyat sama dengan korupsi. Tarsan langsung bertanya kepada ayahnya,”Ayah, apa benar ayah seorang koruptor?”

“Darimana kamu dapat informasi itu,”jawab ayah Tarsan.

“Orang-orang yang bilang kalau ayah makan uang rakyat,”teriak Tarsan.

Dengan hati yang diliputi kesedihan dan penyesalan,

“Iya, memang benar ayah makan uang rakyat, tapi itu semua demi kita,” kata ayah Tarsan sambil menangis.

Diliputi rasa kecewa, Tarsan berkata,”Lebih baik aku tinggal di hutan bersama keluarga gorilla yang tidak mengerti akan korupsi, mereka hidup dalam kebersamaan dan tidak mementingkan keluarga mereka sendiri.”Tarsan pun melepas semua yang ia dapatkan dan kembali ke Kalimantan. Di Kalimantan ia merasa  bahagia, karena keluarga yang merawat dia dari kecil dengan kesederhanaan mampu mengalahkan segala harta yang dimiliki orangtua kandungnya dengan cara yang tidak halal.

Mungkin ini bukan suatu cerita inspirasi, tapi cerita ini mengajarkan kita bagaimana keluarga adalah awal kehidupan kita.Di tempat itulah kita menumbuhkan sifat-sifat kita yang kita tiru dari orangtua kita. Orangtua adalah guru pertama kita yang mengajari mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Harta tidak menentukan kebahagiaan, seberhasil-hasilnya orang namun dengan cara yang tidak baik, tetap saja tidak menunjukkan keberhasilan di mata Tuhan. Kebersamaan dalam menikmati hasil apapun yang dicapai merupakan contoh keberhasilan yang paling membahagiakan dan paling sempurna.

Cerita ini adalah cerita tentang perjalanan hidup saya hingga saya memutuskan untuk mengambil jurusan FKH atau Fakultas Kesenian dan Hiburan, karena banyak lulusannya yang menjadi seniman,tapi sebenarnya Fakultas Kedokteran Hewan. Semoga cerita ini dapat menginspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Awalnya, saya tidak terpikir menjadi seorang dokter hewan. Biasanya kalo anak-anak ditanya cita-cita mereka, mereka akan menjawab jadi dokter (dokter apa,dokterkan banyak spesialisasinya? dokter gigi, dokter umum, dokter kandungan maupun dokter bedah). Tapi tidak terpikir kalo ada dokter selain manusia, yaitu dokter hewan. Waktu SD sebenarnya saya bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola (terinspirasi dari kartun Kapten Tsubasa). Karena dari kecil tidak masuk sekolah sepakbola jadi saya tidak punya keahlian yang baik.Lalu,waktu SMP cita-cita saya berubah, saya ingin jadi pelukis.Saya sedikit memiliki keahlian dalam bidang menggambar,tapi tidak bagus-bagus amat.

Seiring dengan berjalannya waktu, sampai pertengahan kelas 2 SMA saya masih berpikir menjadi seorang pelukis. Namun, sesuatu pun terjadi langit bagai terbelah, bumi berguncang (majas hiperbola) cita-cita saya pun kembali berubah.Tidak tahu dari mana, saya merasa mendapat panggilan tapi cuma missed call.”Kenapa tidak coba menjadi dokter hewan”, tanya hati saya, seperti lagu Pasto. Saya langsung berpikir dan tiba-tiba ting, dokter hewan sepertinya menarik.Lalu, saat kelas 3 SMA ada Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).Tanpa membuang waktu dan membuang uang (lagi tidak jajan) saya langsung mendaftar.Dan kebetulan sekali saya diterima tapi hanya sendirian dari SMA saya.

Sebenarnya keinginan saya menjadi dokter hewan semakin bertambah setelah saya membaca buku alias komik berjudul Wild Life. Komik ini menceritakan seorang pemuda bernama Tessho yang sangat nakal namun memiliki kepekaan dalam hal suara. Dia bingung setelah lulus SMA mau mengambil jurusan apa. Lalu, ia bertemu dengan seorang dokter hewan yang menyatakan bahwa kemampuannya berguna dalam dunia kedokteran hewan. Saya merasa cerita itu mirip dengan kisah hidup saya yang awalnya bingung dalam menentukan pilihan dalam menentukan jurusan di Universitas. Seperti halnya Tessho, siapa tahu dengan kemampuan menggambar yang tidak terlalu bagus bisa menjadi modal untuk menjadi seorang dokter hewan yang memiliki keahlian. Cita-cita tidak datang seketika, kita harus mencari yang sesuai dengan hati kita, mencari yang sesuai dengan  minat kita dan yang terpenting menemukan apa yang akan menjadi masa depan kita.

” Cerita inspirasi bersumber dari pengalaman hidup sendiri yang membawamu sampai pada apa yang kau capai, apa yang kau dapat dan apa yang kau beri untuk hidupmu “